Senin, 04 Juli 2011






wisata BATU LAWANG - CARITA

Batulawang adalah sebuah perkampungan yang berada di puncak gunung yang berada diperbatasan antara kecamatan grogol dan kecamatan pulomerak kurang lebih 10 km dari pelabuhan penyebarangan ferry -MERAK. di perkampungan ini terdapat sebuah batu yang excotic diantara dua gunung batur dan gunung gede yang berbatasan antara bojonegara dan merak.
Tepatnya terletak di gunung pengobelan merak,disitu kita bisa lihat celah celah batu yang sangat besar,sehingga kp.batu lawang diambil dari nama batu tersebut dimana batu tersebut membelah dua gunung (bukan gunung kembar punya cewe ya....xixixixi)..yaitu gunung batur dengan gunung gede merak. arti lawang disini dari bahasa sunda yang artinya PINTU.
selain batu lawang ada juga batu kodok (mirip kodok sedang nangkring),ada pula celah gunung dengan kemiringan 80 derajat yang menjulang dan itu bisa dilihat dari batu lawang. di situ ada batu yang dibelah oleh air menyerupai air tejun dengan debit air yang sangat deras saat musim penghujan dengan ketinggian 5 meter.
Bagi rekan2 yang hobbi hiking,jogging bersepada gunung mungkin tempat ini sangat cocok untuk dikunjungi karena daerahnya jauh dari kawasan industry cilegon dan suasana disana pun sangat indah n romantis....berkunjung donk ke banten all friends

wisata alam banten---CIKOROMOY - PANDEGLANG

Pemandian umum Cikoromoy berasal dari sumber mata air yang berada di Kp. Cikoromoy, dahulu sumber mata air ini berada ditengah hutan yang dikelilingi oleh hutan belantara dan pepohonan yang tingi dan besar-besar. Makin lama penduduk setempat memakai sumber air ini untuk kehidupan sehari-hari seperti mandi, memasak, mencuci pakaian bahkan untuk memberi minum dan memandikan ternak penduduk setempat di sumber air tersebut. Selain itu sumber mata air Cikoromoy tidak pernah mengalami kekeringan pada saat musim kemarau. Selain mengairi pesawahan, sumber air ini pula yang digunakan oleh Pemkab Pandeglang untuk PDAM yang mengairi perumahan yang ada diwilayah pandeglang.
Konon, sumber mata air ini sudah ada sejak lama sebelum masa penjajahan Belanda. Sejak tahun 1975 sumber ini di lokalisir oleh warga setempat agar mudah mengambil air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Lambat laun banyak pelajar stempat menggunakan sumber mata air Cikoromoy untuk bermain-main saja dan hanya dikenakan tarif biaya sebesar Rp.100,-. Seiring waktu dengan semakin banyaknya pengunjung perlu perhatian khusus untuk perawatan sumber air Cikoromoy yang di kelola oleh kepala desa Kadu Bungbang. Hingga kini pemandian sumber mata air Cikoromoy di bawah pengelolaan Kepala Desa Kadu Bungbang, siapapun yang menjadi Lurah akan mendapatkan hak pengelolaan untuk kepentingan desa dan masyarakat setempat. Berdasarkan PERDES No:02 tahun 2009/2010 setiap orang dikenakan biaya retribusi sebesar Rp.2,000,-.
Sumber air tersebut berada di Kp. Cibulakan Desa Kadu Bumbang Kec. Cimanuk Pandeglang dapat ditempuh melalui alun-alun Pandeglang menuju arah pertigaan jalan ke Labuan lurus dan melanjutkan ke arah Kecamatan Cimanuk, di pertigaan Cimanuk berjarak 7,3 KM. Berada di bawah 300 M setelah Situs Batu Quran.

rumah baduy

Baduy adalah sebuah komunitas yang sampai saat ini masih ada dan terus eksis sebagai suku yang memegang adat istiadat yang kuat.....suku ini dibagi dua ada baduy dalam dan baduy luar,dan untuk membedakan keduanya adalah dari pakaian dan tempat tinggalnya.....kalau baduy luar kehidupannya sudah sedikit modern mereka sudah mengenal segala kebutuhan modern seperti handphone,tv,kendaraan dll.dan mereka boleh keluar dari daerahnya untuk mencari penghasilan untuk keluarganya...sedangkan baduy dalam mereka masih belum bisa nerima dunia modern yang sekarang kita alami mereka hidup dengan apa adanya dan sepertinya mereka hidup bahagia tanpa beban....
Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yaitu Suku Baduy. Suku Baduy mendiami kawasan Pegunungan Keundeng, tepatnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Masyarakat Baduy memiliki tanah adat kurang lebih sekitar 5.108 hektar yang terletak di Pegunungan Keundeng. Mereka memiliki prinsip hidup cinta damai, tidak mau berkonflik dan taat pada tradisi lama serta hukum adat. Kadang kala suku Baduy juga menyebut dirinya sebagai orang Kanekes, karena berada di Desa Kanekes. Mereka berada di wilayah Kecamatan Leuwidamar. Perkampungan mereka berada di sekitar aliran sungai Ciujung dan Cikanekes di Pegunungan Keundeng. Atau sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta dan 65 km sebelah selatan ibu kota Serang. Masyarakat suku Baduy sendiri terbagi dalam dua kelompok.





Kelompok terbesar disebut dengan Baduy Luar atau Urang Panamping yang tinggal disebelah utara Kanekes. Mereka berjumlah sekitar 7 ribuan yang menempati 28 kampung dan 8 anak kampung. Sementara di bagian selatannya dihuni masyarakat Baduy Dalam atau Urang Tangtu. Diperkirakan mereka berjumlah 800an orang yang tersebar di Kampung Cikeusik, Cibeo dan Cikartawana. Kedua kelompok ini memang memiliki ciri yang beda. Bila Baduy Dalam menyebut Baduy Luar dengan sebutan Urang Kaluaran, sebaliknya Badui Luar menyebut Badui Dalam dengan panggilan Urang Girang atau Urang Kejeroan. Ciri lainnya, pakaian yang biasa dikenakan Baduy Dalam lebih didominasi berwarna putih-putih. Sedangkan, Baduy Luar lebih banyak mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala bercorak batik warna biru. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang. Selain itu mereka menjual hasil kerajinan seperti Koja dan Jarog(tas yang terbuat dari kulit kayu), tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung, golok, parang dan berburu. Masyarakat Baduy sangat taat pada pimpinan yang tertinggi yang disebut Puun. Puun ini bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan kehidupan masyarakat yang menganut ajaran Sunda Wiwitan peninggalan nenek moyangnya. Setiap kampung di Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun, yang tidak boleh meninggalkan kampungnya. Pucuk pimpinan adat dipimpin oleh Puun Tri Tunggal, yaitu Puun Sadi di Kampung Cikeusik, Puun Janteu di Kampung Cibeo dan Puun Kiteu di Cikartawana. Sedangkan wakilnya pimpinan adat ini disebut Jaro Tangtu yang berfungsi sebagai juru bicara dengan pemerintahan desa, pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Di Baduy Luar sendiri mengenal sistem pemerintahan kepala desa yang disebut Jaro Pamerentah yang dibantu Jaro Tanggungan, Tanggungan dan Baris Kokolot. Keberadaan masyarakat Baduy sendiri sering dikaitkan dengan Kerajaan Sunda (Pajajaran) di abad 15 dan 16. Saat itu, kerajaan Pajajaran yang berlokasi di Bogor memiliki pelabuhan dagang besar di Banten, termasuk alamnya perlu diamankan. Nah, tugas pengamanan ini dilakukan oleh pasukan khusus untuk mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan ini yang diyakini sebagai cikal bakal suku Baduy. Ada pula yang mempercayai awal kebedaraan suku Baduy, merupakan sisa-sisa pasukan Pajajaran yang setia pada Prabu Siliwangi. Mereka melarikan diri dari kejaran pasukan Sultan Banten dan Cirebon. Namun pada akhirnya, mereka dilindungi Kesultanan Banten dan diberi otonomi khusus